Text
100 Toko Yang Mengubah Indonesia
"5aya bukan saja membela terdakwa, tapi terutama
kebenaran dan keadilan."
Arief Budiman dalam tulisannya di suatu harian
(meminjam istilah Harry Tjan Silalahhi) menyebut
Yap Thiam Hien sebagai penyandang triple minoritas.
Pertama, ia keturunan Cina. Kedua, ia beragama
Kristen. Ketiga, ia jujur dan bersih. "Satu minoritas
saja sudah membuat dirinya kesepian. Ia tiga sekaligus," kata Arief.
Kondisinya sebagai minoritas itulah yang membuat Yap selalu peduli pada orang-orang yang senasib dengannya. Adnan Buyung Nasution mengaku
terkesan akan mutu ilmu hukumnya yang tinggi dan
kegigihannya membela hak-hak terdakwa. "Sebagai
ahli hukum memang kapasitasnya biasa-biasa saja.
Tapi, yang paling menonjol dari Yap adalah sebagai
tokoh moral. Ia selalu memberikan arah pada saat
kita lupa, bagai mercusuar," kata Arief.
282
ltulah Yap Thiam Hien.
Terlahir di Kutaraja, Banda Aeeh, 25 Mei 1939,
Yap adalah eueu Kapitan Yap Hun Han, kepala kelompok Cina yang diangkat Belanda. Dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang feodalistis, justru
membuat ia membend kesewenang-wenangan dan
penindasan. Masa keeilnya yang selalu tersisih akibat
"mata sipitnya" yang berbeda dengan anak-anak lain.
Selama menuntut ilmu di Europe Lagere School (EIS),
sekolah dasar khusus untuk orang Belanda, Yap kedl
sudah menelan kepahitan diskriminasi rasial. Dalam
pelajaran matematika dan sejarah, misalnya, ia selalu
mendapat angka 10. Tapi,·dalam pelajaran bahasa
Belanda, nilainya selalu 6 ke bawah.
Tamat dad MULO Banda Aeeh, ia merantau ke
Yogyakarta dan masuk ke AMS A-II jurusan Sastra
Barat. Di sinilah ia banyak membaea berbagai jenis
literatur, baik yang berbahasa Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, maupun Latin. Pindah ke Jakarta, ia
masuk ke sekolah Chineesche KweekschooI (sekolah guru Belanda untuk orang Cina). Setelah sempat menjadi guru dan peneari pelanggan telepon, ia tertarik
kuliah di fakultas hukum. Gelar Meester de Rechten
ia raih di Leiden, Belanda. Sejak 1949, dunia advokat
mengibarkan namanya.
Pada 1950-1953, ia bekerja sarna dengan John
Karwin yang bersama Moehtar Kusumaatmadja dan
Komar membentuk sebuah kantor pengaeara. Lalu
bergabung dengan Tan Po Goan (bekas menteri dan
anggota parlemen), Lie Hwee Yoe, dan Oei Tjoe Tat
selama 17 tahun. Bersama Adnan Buyung Nasution
dkk,ia mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
283
Pada tahun 1970, Yap mendirikan kantor pengacara sendiri. Baginya klien yang paling penting adalah mereka yang tertindas. Sikapnya konsisten menentang penindasan dan pelanggaran HAM. Pada
masa Orde Lama, ia mengritik penahanan Moh. Natsir, Moh. Roem, Mochtar Lubis, Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, dan H. Princen.
Tapi, pada masa Orde Baru ia malah membela
Dr. Soebandrio, meskipun ia sendiri anti-komunis.
Akibatnya, Yap sempat seminggu mendekam di rumah tahanan Pesing dengan tuduhan terlibat C 30 S.
Apalagi Yap turut mendirikan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), organisasi Cina peranakan yang didirikannya bersama
Siauw Ciok Tjan pada 1954. Padahal jauh sebelum
G 30 S, Yap sudah keluar dari organisasi tersebut
karena berselisih paham dengan Siauw. Tahun 1974
ia kembali ditahan ketika dituduh terlibat dalam
peristiwa Malari.
Meski beberapa kali ditahan, Yap tidak jera untuk melawan kekuasaan yang zalim. "Pemerintah
juga harus diberi tahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan," ujarnya.
Tahun 1980-an, suami Tan Cian Khing Nio itu
mengaku kecewa melihat mendulnya hukum di Indonesia. Ia mulai aktif di berbagai LSM dan sempat
mendirikan Prison Fellowship, organisasi pelayanan
narapidana dan tahanan. Kemudian masuk dalam
International NCO Conference on Indonesia (INCI),
lembaga yang bertujuan mengembangkan partisipasi rakyat dan LSM dalam pembangunan masyarakat dan negara.
284
Oedikasinya terhadap rakyat dan keadilan telah
diakui Pusat Bantuan dan Pengabdi Hukum Indonesia (Pusbadhi). Organisasi ini memberikannya plakat Pengabdi Hukum Teladan. Yap juga menjadi anggota International Commission of Jurist.
Yap Thiam Hien roboh ketika menghadiri pertemuan ke-5 INCI pada 23-25 April 1989 di Brussel,
Belgia. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pada
24 April di Rumah Sakit Santo Agustinus, karena
pembuluh darah di perutnya pecah. Bahkan, perdarahan telah terjadi di kala Yap masih berada di dalam pesawat.
Negeri ini pun kehilangan pakar hukum yang
konsisten menentang kesewenangan penguasa. *****
| X06486 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain